Batam

Setahun, 3 Perusahaan Tutup

BATAM (HK) -Sepinya orderan menjadi alasan bagi perusahaan di kawasan industri Batamindo, Muka Kuning menghentikan operasionalnya. Dan, pemilik perusahaan memilih hengkang ke negaranya. Menurut catatan FSPMI Kota Batam,  perusahan yang tidak beroperasi sejak setahun terakhir ini kurang lebih ada tiga perusahaan.

Ketua FSPMI kota Batam, Alfitoni menyebutkan, biasanya perusahaan yang sudah ditutup itu jarang  datang kembali untuk memulai usahanya di tempat yang lama.

Ke-3 perusahaan tersebut merupakan PT Hantong Precesion Manufaturing, yang berada di Batu Ampar, selanjutnya PT Xenon yang berada di Batamindo, Muka Kuning serta PT Nagano Drilube Indonesia. "PT Nagano Drilube Indonesia ini lah yang terakhir kabur. Yang dua lagi pada bulan yang silam. Bahkan kedua perusahaan tersebut sama persis kejadiannya dengan perusahaan Nagano ini," kata Alfitoni, Rabu (12/9) siang kemarin.

Selain dari tiga perusahaan dibidang elektronik dan dibidang metal ini, katanya pria yang bekerja di perusahaan Sanwa itu, masih ada perusahaan yang kabur dari Batam seperti PT Polistar, yang berada di Batamindo, Muka Kuning, pada tahun 2017 lalu.

"Tahun 2017 silam, hanya PT Polistar yang berada di Batamindo, Muka Kuning yang hengkang dari Batam dan persis juga dengan kejadiannya," bebernya kembali.

Ia juga menyampaikan, hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Bahkan sudah berulang-ulang dialami para buruh yang bekerja. Oleh karena itu, ia meminta kepada pemerintah bila ada masuk investor ke Batam harus dibuat jaminannya. Lagian, sambungnya, kita bukannya menolak para investor masuk ke Batam ini, akan tetapi apa yang dibuat perjanjiannya agar tak seperti yang terjadi di PT Nagano tersebut.

"Terus terang, kita tak pernah menolak yang namanya investor masuk ke Batam. Tapi tolong kepada pemerintah membuat seperti jaminannya agar tak segampang yang mereka pikirkan. Kalo kayak gini terus siapa yang bertanggung jawab. Kan kita juga yang susah lagi," tegasnya.

Kemudian, ia juga meminta kepada pihak Disnaker Batam maupun Provinsi agar tetap mengawasi perusahaan yang membandel. Pasalnya apabila terjadi lagi seperti ini, siapa yang merugi. "Oleh karena itu, kami meminta kepada pihak Disnaker Batam maupun Provinsi agar pengawasannya berjalan. Agar tak terulang lagi kayak gini. Kan kita sendiri yang rugi apabila ownernya kabur ke negara asalnya," paparnya.

Alfitoni pun mendata kalau perusahaan yang masih tetap beroperasi masih ada sebanyak 70 an perusahaan. Namun akan tetapi karyawannya sendiri yang dikurangi. (ded)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar