Kasir Tewas di Kamar Hotel

Korban Tulang Punggung Keluarga

Arif tetangga korban memberi keterangan di depan rumah korban.

KARIMUN (HK) - Kematian Ida (23), kasir Hotel Milenium di tangan Syahyuda (20) seorang ABK kapal rawai menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Pasalnya, Ida yang dikenal sangat baik oleh keluarga dan tetangga sekitarnya itu merupakan tulang punggung keluarganya.

Korban merupakan warga RT 03 RW 03, Kelurahan Tebing, Kecamatan Tebing. Korban merupakan etnis Tionghoa. Keluarga ini dikenal baik oleh tetangga sekitar. Mereka hidup bermasyarakat. Masyarakat Kampung Baru betul-betul kehilangan atas kepergian Ida untuk selama-lamanya itu.   

Jenazah Ida sudah dikebumikan keluarganya, Senin (1/10) pagi. Keluarga korban mengalami pukulan hebat sejak kematian Ida pada Sabtu (29/9) di kamar 202 tempatnya bekerja itu. Terlebih ibunya, dia tiap hari hanya bisa meratapi anak kesayangannya itu. Dia tak mau menerima siapapun yang datang ke rumahnya.

"Maaf Bang, kami bukannya tak mau mengizinkan Abang maupun teman-teman yang lain masuk ke rumah korban. Namun, kami sudah tak tahan lagi melihat ibu korban menangis jika ada yang menanyakan soal anaknya itu. Sekarang ibunya lagi tidur. Mungkin saat tidur inilah dia berhenti menangis," ungkap Arif, tetangga korban, Senin (1/10) sore.

Kata Arif, korban merupakan anak yang sangat polos dan baik. Dia berangkat kerja setiap pagi sebagai kasir hotel dan pulang sekitar pukul 6 sore menggunakan angkot. Setiap mau berangkat kerja, korban selalu menyapanya. Begitu juga pulang kerja, korban hanya duduk di rumah sambil main game di handphonenya.

Dikatakan, keluarga Ida termasuk kurang mampu. Bapaknya sudah meninggal sekitar tiga tahun lalu. Korban merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Kakak sulungnya saat ini sudah bekerja di PT Timah. Bersama kakaknya itu, Ida membiayai hidup keluarganya. Kedua adiknya dibawa petugas vihara di Batam di kuliahkan disana.

Arif sudah menganggap Ida dan adik-adiknya sebagai adiknya sendiri. Meski berbeda suku dan keyakinan, namun dua keluarga itu sudah seperti satu keluarga. Ibu korban tak jarang membantu-bantu usaha ruman makan keluarga Arif. Seperti mencuci piring atau membantu pekerjaan ringan lainnya.

"Kami di sini semua sangat sayang sama korban. Dia anaknya sangat baik. Dengan seluruh tetanga yang lain dia sangat ramah. Tak pernah ada masalah. Tiap hari dia hanya pergi dan pulang kerja. Setelah itu hanya duduk-duduk di rumah sambil main game di HP. Dia tak pernah keluyuran kemana-mana," ujar Arif.

Arif menyebut, satu hari menjelang kematian Ida, memang ada tanda-tanda yang dialami keluarga korban. Seperti halnya kakak korban yang selama ini pendiam tiba-tiba suka bercanda dengan korban bersama keluarga Arif di depan pintu masuk rumah mereka. Selama ini, hal itu tak pernah terjadi.

"Sore hari menjelang kematia korban, kami bercanda-canda lepas dengan korban dan juga kakak sulungnya. Selama ini korban maupun kakaknya tak pernah seperti itu. Biasanya kalau pulang kerja langsung masuk ke dalam rumah. Saya pun heran kok aneh saja rasanya. Rupanya itu sebuah pertanda," tuturnya.

Bukan hanya keluarga korban yang merasa kehilangan. Tetangga dekat bahkan masyarakat lingkungan sekitar sangat berempati dengan kematian Ida. Saking geramnya dengan cara kematian yang dialami Ida, tetangga korban bahkan meminta pelaku agar dihukum berat, bahkan kalau perlu hukuman mati.

Sebelumnya diberitakan, Ida (23) kasir Hotel Milenium di Jalan Teuku Umar, Tanjungbalai Karimun diduga dibunuh oleh anak buah kapal (ABK) rawai inisial MSY (18) di kamar 202 tempat korban bekerja, Sabtu (29/9) siang. Motifnya, tersangka sakit hati karena korban menolak diminta bersetubuh.

Pelaku merupakan warga Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara. Dia masuk ke Karimun ketika kapal rawainya bersandar di daerah itu.  Pelaku mulai tertarik ketika pertama kali melihat korban dan berhasrat untuk menyetubuhinya. Hanya kurang dari 4 jam, polisi berhasil membekuk tersangka. (ham)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar