Bau Busuk Ganggu Pengunjung Pantai

Limbah Tambak Udang Cemari Laut

Salah seorang warga menunjukkan parit yang dijadikan saluran pembuangan limbah peternakan udang langsung ke laut di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang.

BINTAN (HK) - Air limbah yang dihasilkan dari peternakan udang milik PT Bintan Sejahtera Selalu di Km 47 Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, mencemari laut di sekitar pantai tersebut.

Air berwarna hijau yang mengeluarkan bau busuk juga mengganggu pengunjung pantai. Karena limbah langsung dibuang ke arah laut melalui parit. "Bau sekali, airnya juga berwarna dan berbau. Jadi agak mengganggu," tutur, Miswan (32), warga Tanjungpinang saat mengetahui bibir pantai di sekitar lokasi itu tercemari limbah, Senin (8/10).

Ia berharap, pengelola tambak udang tidak langsung membuang limbahnya ke laut. Karena menurutnya, jika dibiarkan bisa mengganggu sektor pariwisata yang selama ini digalakkan Pemkab Bintan. "Bintan kan terkenal dengan keindahan alamnya, sektor pariwisata begitu pesat berkembang. Jangan sampai, gara-gara limbah ini jadi rusak," pesannya.

Pihak PT Bintan Sejahtera Selalu yang dikonfirmasi soal ini membantah kalau mereka langsung membuang limbah peternakannya ke laut. Menurut Manager Operasional, Afung, sebelum dibuang limbahnya lebih dulu diendapkan di kolam penampungan. "Kalau soal baunya, saya rasa semua air laut bekas peternakan pasti bau," ujarnya.

Soal warna air laut yang hijau, menurut Afung tak berbahaya. Sebab, kolam-kolam untuk peternakan udang jenis vaname itu hanya berkedalaman 1/2 meter. "Otomatis berlumut lah," timpalnya lagi.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bintan untuk meminimalisir dampak limbah yang dihasilkan peternakannya.

Pantauan di lapangan, limbah yang dibuang pihak perusahaan dari peternakan udang langsung menjorok ke bibir pantai. Lokasi peternakan dengan pantai hanya beberapa meter. Sehingga air limbah yang berbau busuk, langsung mengarah k earah laut dan mencemari udara disekitar lokasi  pembuangan limbah.

Lumpur Bauksit

Sementara itu dari Tanjungpinang, puluhan pengendara sepeda motor terjatuh akibat lumpur tebal eks tambang bauksit yang menutupi akses jalan utama warga setelah hujan turun di Jalan Masjid Al-huda, Senggarang, Senin (8/10).

Pengendara yang terjatuh kebanyakan ibu rumah tangga yang hendak mengantar anaknya ke sekolah dan warga yang hendak pergi bekerja.

Kejadian ini menyebabkan mereka ada yang mengalami luka pada bagian kaki dan tangan hingga kepala. "Dari pagi sampai siang ini, sudah ada 19 orang yang terjatuh. Sampai ada yang luka-luka juga di kepalanya. Kalau setelah hujan pasti jalan ini berlumpur ," kata Atun warga sekitar, Senin (8/10).

Warga lainnya, Zul mengatakan sudah beberapa kali dilaporkan warga melalui RT/RW dan Kelurahan. Bahkan Kecamatan namun hingga kini belum ada penanganan. Lumpur yang menutupi jalan utama ini jelasnya, akibat adanya penambangan bauksit sebelumnya oleh PT Cahaya Bintan Abadi (CBA). Karena lahan bekas digali itu ketika hujan turun, membuat lumpur terbawa arus dan lampur itu menutupi jalan.

"Kondisi ini sudah lama, warga Sengagrang sudah sering mengadu. Namun, tidak kunjung digubris dan akhirnya banyak korban seperti saat ini. Baik ke pemerintah dan DPRD bahkan ke Provinsi, tetapi sampai saat ini tidak ada tindakan," ujar Zul.

Saat ada gotong royong yang diselenggarakan Pemko Tanjungpinang dan Pemprov Kepri tidak ada kegiatan di jalan tersebut. Mereka hanya datang ke lokasi dan mengambil foto. "Kami berharap ada solusi dan penanganan, karena jalan ini juga merupakan jalan destinasi wisata ke kelenteng tua Senggarang," pungkasnya.

Wakil Walikota Tanjungpinang Rahma yang mendapat laporan langsung turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kepulauan Riau di Kantor Walikota Tanjungpinang, Senin (8/10).

Rahma berharap kerusakan jalan akibat lumpur bauksit ini harus segera diatasi oleh pihak perusahaan. Untuk penanganan, sebagai langkah awal dalam waktu dekat pihaknya bersama masyarakat akan melakukan pembersihan badan jalan dan parit.

Selain itu, juga akan dilakukan pengerukan parit di hulu kampung untuk mengalihkan luberan lumpur kepemukiman dan jalan. "Kepada warga yang menjadi korban jatuh, dan mengalami cedera lecet atau terkilir, agar segera dibawa ke rumah sakit dan mengenai biaya akan ditangung pemerintah," sebutnya.

Kepala Dinas PUPR Kota Tanjungpinang, Hendri menjelaskan masalah ini sudah terjadi sejak 2 bulan lalu. Penanganan sementara, Staf PU dan Damkar melakukan pembersihan jalan. "Akan tetapi upaya yang kami lakukan ini hanya bersifat sementara karena jika hujan turun, jalan kembali tergenang lumpur," jelasnya.

Untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut, Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Kepri segera memanggil perusahaan tambang tersebut dan minta mereka memperbaiki jalan yang rusak tersebut. (rco/oxy)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar