Tajuk

Awasi Anak, jangan Jadi Korban

Kemajuan teknologi terus memakan korban, khususnya di kalangan remaja. Itulah yang terjadi pada tiga pelajar salah satu SMP di kawasan Batam Centre yang kedapatan menonton film tak senonoh. Tidak dipungkiri, teknologi dan mudahnya akses terutama pada media sosial mengakibatkan siapapun mudah melihatnya. Mulai dari anak-anak SD sampai kalangan orang tua. Bahkan, tidak sedikit para remaja lebih menguasainya daripada orang tua.

Di seluruh media sosial, hampir semua konten disajikan. Akibat kebebasan dan keleluasaan anak dan remaja mengakses media itu, secara langsung telah mengajak mereka menyaksikan konten yang sesungguhnya belum layak untuk mereka lihat. Salah satunya, inilah yang dilakukan oleh siswa SMP yang disebutkan di atas.

Tiga siswa tersebut merupakan mereka yang ketahuan. Mungkin masih banyak lagi siswa atau remaja melakukan hal yang serupa. Yang pasti, ini sebuah sinyal kuat, jika fasilitas, kebebasan, tanpa adanya pengawasan telah membuat anak-anak dan remaja melakukan hal yang buruk.

Jika disampaikan secara sederhana, terjadinya kasus ini salah satunya akibat kelalaian para orang tua. Orang tua tidak melakukan pengawasan ketat terhadap anak-anaknya. Dan lagi, sebenarnya, para orang tua sesungguhnya sudah tahu jika kasus seperti ini sudah kerap disampaikan media massa dan juga dibagi dimedia sosial. Mungkin, karena kurang memahami atau tidak peduli, akibatnya, kasus ini terulang. Dan pihak sekolah dikabarkan berang dan akan mengeluarkan siswa tersebut dari sekolahnya.

Ada kalangan berpendapat, jika Peraturan Daerah nomor 4 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dasar dan Menengah di Kota Batam berjalan maksimal, maka kejadian di SMP tersebut bisa diminimalisir. Dalam Perda itu diatur jam siswa belajar di rumah dan lainnya. Lalu, dalam pasal lainnya juga mengatur mengenai pendidikan agama untuk membantu mendidik akhlak dan moral siswa. Pemerintah kota wajib menyediakan guru agama sesuai dengan keyakinan masing-masing siswa. Namun, di lapangan, Perda ini dinilai tidak berjalan sesuai harapan.

Seyogianya, dalam kondisi saat ini, orang tua harus membatasi anak-anaknya menggunakan telepon pintar. Jangan dimanjakan anak dengan fasilitas yang satu ini.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah komunikasi positif antara orang tua dengan anak terkait apa saja konten yang ada dalam ponsel pintar. Beri pemahaman positif. Begitu juga guru. Jika hal ini dilakukan, dipercaya anak-anak dan remaja akan paham. Dan "kucing-kucingan" menonton konten negatif bisa diminimalisir. Yang wajib dipahami, jangan sampai anak kita jadi korban akibat kemajuan teknologi.***



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar