Bongkar Muatan Secara Ilegal

Kapal Berbendara Mongolia Ditangkap

Danlantamal IV Laksma R Eko Suyatno menginterogasi nakhoda kapal MV Jolly Rover di Makolanal Karimun.

KARIMUN (HK)-Anggota Patroli Keamanan Laut (Patkamla) Combat Boat Lanal Tanjungbalai Karimun yang tergabung dalam Tim F1QR menangkap kapal motor vessel (MV) Jolly Rover di perairan Takong Hiu, Sabtu (20/10). Kapal berbendera Mongolia tersebut diduga masuk ke perairan Indonesia tanpa izin.

Kapal MV Jolly Rover muatan kaleng cat, tali selling, tinner dan juga cat semprot dengan nilai lebih dari 1 miliar rupiah itu berlayar dari Singapura menuju West Outer Port Limited (OPL). Saat berlayar, diduga kapal tersebut melakukan pemindahan muatan atau ship to ship (STS) transfer dengan kapal tanker.

Usai melakukan aktivitas STS transfer di perairan West OPL, ternyata kapal tersebut terus bergerak memasuki perairan Indonesia dan terus menyusuri sebelah utara Pulau Takong Hiu. Melihat ada kapal asing yang memasuki perairan Indonesia tanpa izin, maka Tim F1QR segera mengambil tindakan tegas.

"Kapal MV Jolly Rover berlayar dari Singapura menuju perairan West OPL, diduga melakukan pelanggaran pelayaran karena berlayar di perairan Indonesia tanpa dilengkapi dengan Surat Persetujuan Berlayar (SPB)/Port Clearance, tanpa crewlist dan manifest," ujar Danlantamal IV Laksma R Eko Suyatno saat memberikan keterangan pers di Dermaga Lanal TBK, Senin (22/10).

Kata Danlantamal, izin yang dikantongi kapal MV Jolly Rover itu hanya berlayar sampai ke west OPL. Namun, ternyata kapal itu melakukan aktivitas STS transfer dengan kapal tanker lain dan masuk perairan Indonesia. Kegiatan kapal dengan menurunkan barang di perairan Indonesia tanpa izin merupakan ilegal.

"Aktivitas yang dilakukan kapal MV Jolly Rover dengan 4 awak kapal itu diduga melanggar Undang-undang no 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Meski berbendera Mongolia, namun seluruh ABK kapal merupakan WNI. Saat ini, nakhoda beserta ABK kapal masih dalam proses penyidikan," terangnya.

Danlantamal menyebut, aktivitas ilegal yang dilakukan MV Jolly Rover jelas menimbulkan kerugian bagi Indonesia. Dengan adanya aktivitas ilegal itu, maka Indonesia kehilangan pendapatan dalam STS transfer. Harusnya, ada pemasukan kepada negara, namun lost karena aktivitas ilegal itu.

"Ini yang terjadi baru satu kapal. Coba bayangkan berapa kapal yang melewati perairan Indonesia dan melakukan aktivitas ilegal seperti ini dan berapa besar kerugian negara yang ditimbulkan akibat aktivitas ilegal yang mereka lakukan. Kita akan meneruskan kasus ini hingga ke meja pengadilan," tegas Eko.

Danlantamal memerintahkan kepada seluruh anggota TNI AL untuk melakukan pengawasan di wilayah yuridiksi Indonesia, khususnya wilayah kerja Lanal Tanjungbalai Karimun. Karena, Karimun yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura rentan munculnya kejahatan di laut. (ham)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar