Nasional

Lima Istri Berebut Uang Asuransi Korban Lion Air

Jakarta (HK) - Manajemen Lion Air Group menawarkan dua opsi penyelesaian uang asuransi kepada ahli waris korban jatuhnya pesawat JT 610 yang memiliki istri lebih dari satu. Salah satu korban Lion Air memiliki lima istri. Tiga di antaranya berebut surat keterangan kematian yang menjadi salah satu syarat pencairan uang asuransi dari Lion Air.

Menurut Humas Lion Group, Ramaditya Handoko, ada dua hal yang akan dilakukan Lion Air Group. "Pertama, kami akan mengupayakan diselesaikan secara kekeluargaan. Itu hal yang paling utama," ujar Rama, saat ditemui di Hotel Ibis Cawang, Jakarta, Kamis (8/11).

Rama mengatakan bila penyelesaian dengan jalan kekeluargaan menemui jalan buntu, maka manajemen Lion Group menempuh opsi kedua yaitu diselesaikan secara hukum. "Kami mempersiapkan tim pendamping secara hukum seperti notaris dan lawyers. Ini jika tidak menemukan titik temu, kami siapkan bantuan hukum," kata Rama.

Pada Selasa, (6/11) terjadi kericuhan di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Korban pesawat Lion Air JT 610 yang teridentifikasi, ternyata memiliki 5 orang istri. Sebanyak tiga orang istri hadir saat mengambil surat keterangan kematian.

Ketiga istri tersebut saling berebut surat keterangan kematian sehingga menyebabkan aksi saling dorong. Kejadian ini mengundang keributan dan menarik perhatian pengunjung rumah sakit.

Pihak Lion Air berkomitmen memberikan asuransi Rp1,3 miliar kepada ahli waris korban Lion Air. Dari jumlah itu, sebesar Rp1,25 miliar adalah asuransi pokok dan Rp50 juta asuransi bagasi.

Untuk mendapatkan pencairan klaim asuransi, keluarga korban Lion Air harus menyediakan delapan dokumen syarat yaitu: KTP seluruh ahli waris, akta kelahiran seluruh ahli waris, akta kelahiran penumpang, akta perkawinan orang tua penumpang, akta perkawinan penumpang, kartu keluarga penumpang dan ahli waris, akta kematian penumpang dan surat keterangan ahli waris.

195 Kantong Jenazah

Sementara itu, pada pencarian hari ke-11, Badan SAR Nasional (Basarnas) mengevakuasi delapan kantong. Jumlah total kantong jenazah yang telah berhasil dievakuasi menjadi 195 kantong.

"Operasi hari ini, tim SAR berhasil menemukan delapan kantong jenazah. Semua jenazah telah diberi label dan kami serahkan kepada tim DVI untuk selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Polri," ujar Kabag Humas Basarnas, Suhri Sinaga, saat konferensi pers di Posko JICT II, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (8/11).

Tim Basarnas memang masih terus melaksanakan operasi SAR di lokasi jatuhnya pesawat, yakni di Perairan Karawang, Laut Jawa, Jawa Barat. Mereka beroperasi di sektor prioritas I yang telah diberi tanda untuk penyelaman, di mana di tanda tersebut dicurigai terdapat korban yang belum ditemukan.

Titik penanda penyelaman yang sebelumnya menggunakan Kapal Teluk Bajau Victory milik Pertamina, kini diganti dengan KR Baruna Jaya I milik BPPT. Kapal tersebut dilengkapi dengan peralatan scan side zonar, multi beam echo sounder (MBES), ping locator untuk mendeteksi bagian kotak hitam cockpit voice recorder (CVR), dan remotely operated underwater vehicle (ROV).

Target operasi Basarnas selama masa perpanjangan ini adalah terus mencari dan mengevakuasi korban yang diduga masih berada di dasar laut. Korban yang ada di sekitaran puing dan serpihan pesawat, dengan radius 250 meter. "Tim SAR melakukan penyapuan, baik di dasar laut maupun di permukaan untuk mencari korban," katanya.

Terkait pencarian CVR yang menjadi tanggung jawab dan tugas KNKT, telah dikerahkan empat alat ping locator yang telah disiapkan di atas KR Baruna Jaya I. Jika alat tersebut berhasil mendeteksi sinyal CVR, maka sebagian penyelam Basarnas siap turun tangan untuk membantu proses pencarian hingga pengangkatannya. "Kami bersinergi, solid, dan bahu membahu di lapangan," lanjutnya.

Sementara itu, pada prioritas II, tim SAR melakukan penyapuan di area sekitar center point hingga penyapuan di sepanjang garis pantai Tanjung Karawang-Tanjung Pakis untuk mencari korban yang kemungkinan hanyut terbawa arus. Pada operasi hari ini, Basarnas mengerahkan KN SAR Basudewa sebagai on scene coordinator, KN SAR Sadewa sebagai SAR unit (SRU). KN SAR Drupada sebagai SRU dan dua unit rubber inflatable boat, serta 41 personel penyelam dari Basarnas Special Group (BSG). (tmp/rol)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar