Jeritan Anak Pulau Belat

"Pak Bupati, Tolong Aspal Jalan Kampung Kami"

Anak-anak Belat berangkat ke sekolah hanya bertelanjang kaki, mereka tak pakai sepatu karena takut kena lumpur jalan.

KARIMUN (HK) - Pagi masih berkabut. Rina (16), siswi SMAN 6 Kundur pamit kepada orang tuanya, Senin (26/11). Dia turun dari rumah menuju sekolah. Sepintas, penampilan Rina sama dengan anak sekolah pada umumnya. Berbaju putih dan rok abu-abu. Dia juga menyandang tas. Namun, ketika pandangan dialihkan ke bawah, ternyata remaja itu tak memakai sepatu.

Rina bukannya tak punya sepatu. Gadis sawo matang itu sebenarnya pakai sepatu ke sekolah. Hanya saja, sepatunya itu disimpannya dalam tas. Sepatu itu baru akan dikenakan setelah sampai di sekolah. Dengan langkah riang, Rina berjalan sambil 'nyeker' menyusuri jalan tanah yang lembab.

Di jalan, Rina tidak sendiri. Ternyata, hampir semua teman-temannya juga sekolah tanpa sepatu. Sama seperti Rina, teman-temannya juga menyimpan sepatunya dalam tas. Mereka nampak bersenda gurau menyusuri jalanan tanah merah. Para siswa itu terkadang harus melompati genangan air di jalanan yang becek itu.

"Kami bawa sepatu, kok Om. Tapi sepatu kami simpan dalam tas. Ada juga anak cowok yang sepatunya dibawa pakai kantong kresek. Begitu sampai di sekolah, sepatu kami keluarkan baru kami pakai. Percuma juga bawa sepatu dari rumah, karena begitu sampai di sekolah akan penuh lumpur," tutur Rina, tersenyum simpul.

Keluar dari sekolah, sepatu itu mereka lepas kembali. Anak-anak Pulau Belat tersebut meminta kepada Pemerintah Kabupaten Karimun agar membangun jalan kampung mereka itu dengan aspal. Agar mereka tidak perlu melepas sepatu mereka lagi ketika akan berangkat ke sekolah.

"Pak Bupati, tolong aspal jalan di kampung kami Pak. Sudah bertahun-tahun jalan kampung kami seperti ini. Kasihanilah kami harus pergi sekolah haru berjalan dalam lumpur. Kasihan juga orang tua kami yang kadang terjatuh saat membawa ojol mereka pakai motor karena terpeleset di jalan yang licin," tutur siswi kelas X SMAN 6 Kundur ini.  

SMAN 6 Kundur berada di Desa Lebuh, Kecamatan Belat. Sekolah itu berada diatas bukit. Untuk menuju sekolah, anak-anak terpaksa  melalui jalan tanah yang becek. SMAN 6 Kundur merupakan satu-satunya sekolah setingkat SMA di Pulau Belat. Sebelum dibangunnya sekolah itu, anak-anak Belat sekolah ke Tanjungbatu.

Sarana transportasi untuk mengangkut anak sekolah di Pulau Belat juga sangat minim. Di pulau itu hanya ada dua angkot. Dengan keterbatasan sarana angkutan itulah, terpaksa anak-anak Pulau Belat ke sekolah jalan kaki. Ada juga satu atau dua orang yang mengendarai motor.

Rahman, guru honorer di SDN 003 Belat yang berada di Desa Penarah juga prihatin menyaksikan nasib yang dialami anak-anak di Pulau Belat. Mereka harus berjuang keras untuk mencapai sekolah. Terkadang, pakaian yang mereka gunakan bersih dan rapi dari rumah, harus kotor dan kena noda lumpur begitu sampai di sekolah.

"Kasihan anak-anak di kampung kami. Mereka harus pergi sekolah dengan kaki telanjang. Bukannya tak punya sepatu, namun justru pakai sepatu akan makin menyulitkan mereka untuk berjalan. Karena jalanan yang mereka lalui dipenuhi lumpur. Jadinya, sepatu mereka simpan dalam tas," ujar Rahman, kemarin.

Menurut Rahman, jalanan berlumpur di Pulau Belat bukan hanya mencelakai anak-anak yang berangkat ke sekolah. Para orang tua juga yang banyak menjadi korban ketika mengendarai sepeda motor, kemudian tergelincir ke tanah. Padahal, orang tua itu membawa keranjang di kiri kanan motor yang diisi hasil panen di kebun.

"Bisa dibayangkan, keranjang mereka sampai terpental ke jalanan yang penuh lumpur. Dan buah-buahan yang mereka bawa dalam keranjang itu jadinya berserakan. Satu per satu buah-buahan itu dipungut kembali dan dimasukkan dalam keranjang. Kalau kami ceritakan, masih banyak cerita miris lagi yang kami alami di jalanan penuh lumpur itu," terang Rahman.

Sukri, Ketua RT/RW 01/02 Desa Lebuh, Kecamatan Belat menambahkan, saat rapat di kantor desa memang sudah sering dibahas untuk pembangunan jalan di Kecamatan Belat ini. Pembahasan soal jalan itu sudah sering dilakukan. Namun, hasilnya tetap sama. Sampai sekarang jalan aspal itu tak pernah terwujud.

Jalan tanah di Pulau Belat itu terbentang sepanjang 18 kilometer. Jalan itu merupakan satu-satunya akses utama yang menghubungkan empat desa di Kecamatan Belat, yakni Desa Penarah, Dese Sebele, Desa Lebuh dan Desa Sungai Asam. Pulau Belat berada di depan Pulau Kundur, tepatnya persis di sebelah Ungar, Kecamatan Kundur Utara. (ham)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar