DPO Kapal Eagle Practige Ditangkap di Tasikmalaya

DPO Kapal Eagle Practige Ditangkap di Tasikmalaya

BATAM (HK) - Terpidana kasus pemalsuan dokumen MV Eagle Practige atau Engedi yang sudah buron sejak 2015 lalu, Hamidah Asmara Intani Merialsa alias Intan dijemput paksa tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, Rabu (5/12) sekira pukul 20.00 di Batamia Art Komplek Ruko Rajapolah Permai no.15 Kabupaten Tasikmalaya.

Dalam konferensi pers ke awak media, Kamis (6/12) di Kantor Kejari Batam, Intan mengatakan ada banyak oknum yang terlibat dalam kasus MV Eagle Practige. Salah satunya oknum dari UPT Laut. 

"Saya membayar resmi, tapi uangnya tidak sampai ke negara," ujarnya. 

Ditanya siapa yang terlibat, dengan meyakinkan Intan menyebut oknum UPT Laut terlibat sejak kapal datang. "UPT sejak kapal itu datang," jelasnya lagi. 

Ketika ditanya oleh awak media, apakah Intan tidak takut diteror. "Saya tidak takut diteror, karena teror itu sudah ada sejak dulu. Tuhan tidak tidur, suatu saat kebenaran akan terungkap," terangnya. 

Salah satu indikasi permainan, kata Intan, yakni kapal bisa pindah dari Pulau Janda Berhias Sekupang ke Kabil. Indikasi lainnya kenapa pencuri dan penadah kapal tidak dipidana padahal kapal barang bukti dipotong-potong, bahkan, kata Intan banyak lagi indikasi lain dan siap membeberkan. 

"Saya hanya age, saya dituduh memalsukan tapi saya melaporkan ke oknum terkait," ucapnya lagi. 

Atas beberapa penjelasan, Intan merasa dizolimi, dan ia merasa tidak pernah melarikan diri. Ia mengaku masih sering ke Batam, dan masih memiliki KTP Batam. 

Sebelum dijemput paksa oleh tim Kejari Batam yang dipimpin langsung Kajari  Batam Dedy Tri Haryadi dan Kasi Pidum Filpan Fajar D Laia bersama tim dari Intelijen Kejagung, Intan telah menjadi DPO atas  Putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru nomor 319/Pid.B/2014/PT.PBR tertanggal 26 Februari 2015 dengan putusan 2,5 tahun penjara. 

Dijelaskan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Batam, Dedy Tri Haryadi bahwa pelaku ditelusuri ke alamat semua sebagaimana yang tercantum di putusan, namun sudah tidak di tempat. Kemudian dikonfirmasi ke Disduk Capil ternyata sudah pindah dan akhirnya didapat di Tasikmalaya. 

"Kita telusuri keberadaannya, dan akhirnya kita dapatkan di Tasikmalaya," ungkap Kajari. 

Dalam pemeriksaan awal di Kejari Bandung, kata Kajari, hingga tiba di Batam terpidana Intan cukup kooperatif, dan bahkan siap mengungkap perkara lain yang lebih besar dan terindikasi tindak pidana umum.  

"Keterangan dan bukti-bukti dari Intan akan kita dalami, seandainya benar pasti kita akan pihak-pihak terkait," ungkapnya. 

Bahkan menurutnya, pihak Kejari Batam siap melindungi terpidana dan bahkan meminta bantuan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), karena berkaitan dengan kasus besar dan terpidana siap menjadi justice collaborator. (ays)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar