Pupuk Mahal

Petani Beralih ke Organik

Para petani di Desa Air Lengit memanen padi yang sudah menguning.

NATUNA (HK).-  Petani di Desa Air Lengit, Kecamatan Bunguran Tengah beralih menggunakan pupuk organik dari kulit pisang, menyusul harga pupuk kimia mahal. Sutikno, Petani Padi mengatakan, pupuk organik berbahan dasar limbah kulit pisang ini memiliki banyak kandungan seperti, kalsium, protein dan fospor.

Selain itu juga mengandung unsur mikro Ca, Mg, Na, Zn, sehingga limbah kulit pisang berpotensi untuk terus dikembangkan sebagai pupuk organik bagi tanaman. "Kita menggunakan kulit buah pisang jenis pisang kepok. Karena tanaman pisang jenis ini banyak sekali di desa ini. Sehingga untuk mendapatkan bahan baku limbah kulit pisang juga sangat mudah," kata Sutikno di kediamannya, Kamis (6/12).

Dijelaskannya, kulit pisang itu sendiri sekitar 1/3 bagian dari buah pisang. Sejauh ini, pemanfaatan sampah kulit pisang masih kurang, hanya sebagaian orang yang memanfatkannya sebagai pakan ternak. "Adapun kandungan yang terdapat di kulit pisang yakni protein, kalsium, fosfor, magnesium, sodium dan sulfur, sehingga kulit pisang memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik," jelasnya.

Saat ini, kata Sutikno, dirinya masih tetap menggunakan pupuk kimia, akan tetapi tidak dengan skala besar. "Harga pupuk organik sangat mahal. Pupuk jenis MPK itu bisa Rp.500 ribu untuk ukuran 50 kilogram. Makanya sekarang saya lebih memilih menggunakan pupuk organik," paparnya.

Sutikno berharap, dengan menggunakan pupuk organik hasil produksi padi meningkat ketimbang menggunakan pupuk kimia. Disamping itu, biaya produksi bisa lebih kecil. (fat).



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar