Dugaan Kasus Pemalsuan Surat Tanah di Bintan

Pemilik Hotel di Tanjungpinang Tersangka

Agus Riawantoro SH Kuasa Hukuma Salenah, kasus tanah di Bintan.

TANJUNGPINANG (HK)- Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Kepuluan Riau (Direskrimum Polda Kepri) dikabarkan telah menetapkan H Danoer Yoesoef, pemiliki salah satu hotel di Tanjungpinang sebagai tersangka dugaan kasus  tindak pidana pemalsuan surat seluas 2,5 hektar di Desa Malang Rapat, Kabupaten Bintan.

Selain itu, polisi juga menetapkan Bachtiar (mantan Kades Malang Rapat), H Muhardi alias Ajo dan Ismadi alias Is, dua nama terakhir merupakan mantan pegawai BPN Bintan. Penetapan empat tersangka dugaan kasus pemalsuan surat tanah tersebut dikuatkan Sprindik nomor SPDP/69/VII/Ditreskrimum pada 07 Agustus 2018 atas laporan H Bahrum dengan LP/541/V/2016 Bareskrim tanggal 26 Mei 2016.

Kasus ini bermula dari fakta persidangan gugatan perdata antara Salenah melawan H Danoer Yoesoef dan kawan-kawan. Salena merupakan pemeganga SKT tanah seluas 2,5 hektar sejak tahun 1982 di kawasan Malang Rapat. Namun, ternyata tanah itu telah terbit sertifikatnya atas nama H Bahrum.

Danoer Yoesuf, diduga memalsukan dokumen kepemilikan tanah seluas 2,5 hektar milik Salamah warga Desa Malang Rapat Bintan. Kasus ini telah dilaporkan ke Bareskrim dan ditindak lanjuti Polda Kepri. Eko Supriyono, SH kuasa hukum dari keluarga Salamah menjelaskan, dugaan kasus tersebut sudah dilaporkan ke Mabes Polri sejak Mei 2016 lalu, kemudian dilimpahkan ke Polda Kepri untuk ditindak lanjuti.

"Dari hasil penyidikan polisi, akhirnya dilakukan penetapan tersangka terhadap empat orang tersebut, termasuk Danoer Yoesoef. sudah diberitahukan oleh penyidik Polda Kepri kepada kami selaku kuasa hukum pelapor sejak 7 Mei 2018 lalu," kata Eko Supriyono, didampingi rekanya sesama pengacara, Agus Riawantoro SH, Jumat (11/1).

Eko sapaan akrab pengacara ini berharap, agar proses hukum dugaan kasus pemalsuan tanah tersebut segera dituntaskan oleh pihak kepolisian secapantya melalui proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang.

"Pasalnya laporan tersebut sudah kita buat sejak Mei 2016 lalu, namun penetapan tersangka ke empat orang itu baru diberitahukan penyidik Polda Kepri pada Mei 2018. Berkas perkaranya juga sudah masuk ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri, namun hingga saat ini masih belum jelas tindak lanjutnya," ujar Eko.  

Eko menjelaskan, kasus bermula sejak 3 Juli 2003 ada surat pernyataan riwayat tanah, surat keterangan dari desa dan surat kepemilikan atas tanah tersebut atas nama Abdul Bahrum dan Usman. "Tahun 2003 terbit sertifikat 3333/2003 atas nama Abdul Bahrum seluas 1.809 meter dan 3334/2003 atas nama Usman seluas 14.509 meter," jelas Eko di Mapolda Kepri.

Lanjutnya, pada tangga 1 Maret 2004, akte jual beli dibuat antara Bahrum dan Danoer Yoesuf, Feny Alfina anak dari Danoer Yoesuf antara Usman dan Feny 31 Juli 2008 No 282 disaksikan oleh PPAT Suryanto Wahyono. "Tanahnya sudah dijual dan ngaku sudah beli dari Bahrum dan Usman. Namun Bahrum dan Usman sampai saat ini tidak mengaku mereka pernah menjual dan menandatangani surat jual beli tersebut," ujarnya.

Dia mengatakan, selain laporan pidana tentang prmalsuan, kasus Perdatanya sudah disidangkan ke Pengadilan Negri Tanjungpinang atas nomor pendaftaran 52/G/PGT/08/2016. "Saat persidangan peetama proses mediasi oleh hakim Usman mengaku tidak mengenal Danoer. Jika dilihat dari surat menyurat sampai jual beli pastinya keduanya saling kenal, tapi ini tidak, malah diam-diam tak kenal," ungkapnya.

Agus Riawantoro SH, penasehat hukum alm Salenah menambahkan, dalam persidangan, H Bahrum membantah memiliki tanah di atas SKT milik Salenah. "Jangankan sertifikat, alas hak saja, H Bahrum tidak punya. Dia juga tidak pernah menjumpai notaris di Kijang untuk jual beli tanah itu,” katanya.

Setelah kepemilikan tanah berpindah ke H Bahrum, muncul lagi jual beli antara H Bahrum dengan H Dahnoer Yoesoef. " "Padahal H Bahrum tak pernah memiliki apalagi menjual tanah itu," terangnya.(nel)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar