Tajuk

Gerakan Antisipasi DBD

Selama Januari 2019, sekitar 86 orang warga Batam terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dari total semua itu, sebagian besar diderita oleh anak-anak. Ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh masyarakat di Kepri khususnya Batam untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan agar jangan sampai anggota keluarga terjangkit penyakit berbahaya ini.

Kasus DBD saat ini tidak hanya terjadi di Batam. Sejumlah kota di Kepri juga mengalami hal yang sama. Di Indonesia kondisi serupa juga ada di sejumlah daerah lainnya. Jadi, DBD kini merupakan penyakit yang mendapat perhatian serius hampir di seluruh daerah di Indonesia.

Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, sepanjang 2018 lalu, tercatat ada sekitar 642 kasus DBD yang terjadi di Batam. Angka ini lebih tinggi dari tahun 2017 lalu yang sebanyak 593 kasus. Tapi, pada 2016 angkanya lebih tinggi lagi yang mencapai 966 kasus.

Perbandingan angka ini memberi gambaran kalau kasus DBD di Batam cukup banyak. Sebab itu, pergantian musim saat ini wajib disikapi penuh kewaspadaan oleh seluruh masyarakat dan pihak terkait. Antisipasi dan penangan serius wajib dilakukan agar tidak ada korban jiwa di tengah masyarakat.

Penanganan penyakit ini dengan menerapkan 3M plus (menguras, menutup, dan memanfaatkan) barang tak terpakai di lingkungan masing-masing kembali digalakan. Tidak hanya itu, cara lain seperti fogging, menaburkan bubuk abate pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat anti nyamuk atau menggunakan kelambu saat tidur, juga bisa kembali dianjurkan kepada masyarakat. Termasuk cara lain, seperti memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam rumah, juga kembali disampaikan pada masyarakat. Ini merupakan cara-cara untuk mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk demam berdarah di tengah lingkungan rumah.

Selain rumah tangga, di lingkungan sekolah diharapkan gerakan antisipasi DBD juga harus digaungkan. Soalnya, saat nyamuk ini "beraksi", rata-rata anak-anak tengah berada di sekolah. Sebab itu, pihak sekolah dan pengelola lingkungan sekolah menggiatkan aksi antisipasi DBD. Gotong royong membersihkan lingkungan sekolah sekali sepekan bisa dilakukan saat-saat seperti sekarang. Ini sekaligus mengajarkan anak untuk melakukan hal yang sama di rumahnya masing-masing.

DBD bukan penyakit biasa. Antisipasi dan pencegahan akan lebih berguna daripada mengobatinya. Untuk itu, mari gaungkan antisipasi DBD di seluruh wilayah di Batam dan juga Kepri. ***



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar