Tajuk

Renungan Bersama

Seorang ayah tiga anak terpaksa melakukan tindakan tidak terpuji di sebuah kafe di kawasan Batuaji, Rabu (6/3/2019) lalu. Bersama seorang kawannya, dia membobol kafe tersebut dan mengambil sejumlah barang yang ada di situ. Aksinya ketahuan berkat rekaman CCTV. Saat diciduk di rumahnya, si pelaku tidak bisa mengelak, apalagi salah satu barang buktinya masih dipegangnya. Sementara, kawannya buron. Kepada polisi, dia mengatakan, perbuatan buruk itu terpaksa dilakukannya karena 
terdesak uang untuk biaya pendidikan anaknya. Sementara tabungannya sudah habis dan dia sendiri sudah lama menganggur. 

Itu fakta dan salah satu kasus yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Orang - mungkin saja tidak memiliki niat untuk melakukan perbuatan melanggar hukum - namun karena ada desakan dan kebutuhan, terpaksa tertindak nekat. Apalagi berkaitan dengan pendidikan anak atau untuk makan keluarga.

Apakah pelaku disalahkan? Barangkali sama-sama bisa ditelaah. Dalam kondisi seperti sekarang, ekonomi secara umum belum baik. Banyak perusahaan yang dulunya beroperasi, terpaksa menghentikan operasional karena sepinya order. Saat pekerja dirumahkan, sementara usaha lain belum ada, otomatis, dana yang disimpan akan terkikis juga seiring kebutuhan hidup. Sementara, tidak dapat dipungkiri, beban biaya di Batam saat ini dinilai cukup tinggi. Belum lagi pendidikan, atau ada anggota yang sakit, dan biaya lain yang tidak terduga, seperti buku anak, baju sekolah, dan lainnya.

Kasus di atas barangkali bisa menjadi renungan dan perhatian semua elemen masyarakat. Orang, ketika kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, rasanya, tidak akan mungkin dia berpikir untuk melakukan hal negatif seperti itu. Namun, saat kebutuhan dasar di rumah bermasalah, apapun akan dilakukan. Syukur-syukur bisa mendapatkan pekerjaan "kecil" yang bersifat temporal. 

Ini baru satu kasus. Mungkin banyak kasus lain yang serupa. Hal itu juga memberi bukti dan menunjukan jika kini sebagian masyarakat butuh pekerjaan atau usaha yang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disinilah peran pihak terkait untuk dapat mencarikan solusi persoalan ini.

Rasanya miris juga mendengar dan melihat ada orang di sekitar lingkungan terpaksa melakukan tindakan negatif hanya karena terdesak masalah makan dan pendidikan. Barangkali ini dapat menjadi perhatian semua dan pihak-pihak terkait. ***



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar