Tajuk

Mulai dari Nol

Bulan Ramadhan 1432 H telah berlalu. Setelah berperang melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh, kini umat Islam memasuki Bulan Syawal atau bulan kemenangan. Seperti trendnya isi SMS (pesan singkat) selamat Lebaran, umat Islam bulan ini kembali memulai dari nol. Tak ubahnya seperti bayi baru lahir, kondisinya suci.

Kini tergantung kepada masing-masing umat Islam, apakah waktu satu tahun ke depan akan diisi dengan amal ibadah, hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi umat dan bangsa atau akan dinodai dengan perbuatan-perbuatan negatif, manipulatif, koruptif dan sebagainya.

Tentulah sangat sia-sia amal ibadah, seperti puasa, shalat tarawih dan shalat witir serta membaca Alquran satu bulan penuh bila ternyata lembaran baru ini kembali dikotori dengan berbagai perbuatan dosa yang melanggar norma-norma agama, aturan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Bila saja amal ibadah selama bulan Ramadhan benar-benar dilaksanakan dengan sebuah semangat dan keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik, tentu ini akan menjadi modal yang luar biasa guna menyelesaikan persoalan Bangsa Indonesia yang multi komplit.

Praktik manipulasi, kolusi, korupsi dan nepotisme yang telah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara bisa terminimalisirkan, bila saja umat Islam yang telah disucikan oleh amal ibadah di bulan Ramadhan memiliki semangat yang konstan seperti halnya semangat beribadah di bulan Ramadhan.

Kendati dari tahun ke tahun dalam realitasnya selalu saja masih jauh dari harapan dan mayoritas umat Islam hanya menjadikan bulan Ramadhan kurang lebih sebagai agenda rutinitas belaka, tetapi sebuah keoptimisan untuk bisa melakukan perubahan dari masing-masing pribadi harus tetap dibangun.

Senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta dan takut akan hukuman Allah SWT di dunia dan akhirat akan menggiring umat untuk tidak melakukan praktik manipulasi, kolusi, korupsi, nepotisme, merusak alam dan praktik kriminal lainnya.

Para pejabat atau penyelenggara negara jangan hanya takut melakukan praktik manipulasi, kolusi, korupsi, nepotisme dan sebagainya cuma pada bulan Ramadhan saja, tapi juga pada 11 bulan lainnya. Begitu juga dengan pedagang, pengusaha dan orang yang bekerja pada profesi lainnya.
Perilaku positif selama bulan Ramadhan perlu ditularkan pada bulan-bulan lainnya.

Amat memprihatinkan, para penyelenggara negara Republik Indonesia tercinta ini yang dominasi oleh umat Islam ternyata mereka banyak terjerumus dalam praktik manipulasi, kolusi, korupsi, nepotisme dan tindak kriminal lainnya.  Perubahan itu memang tidak mudah, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan kontiniu.**



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar