Batam

Polisi Arogan dan Tidak Profesional

BATAM (HK)- Penasehat Hukum (PH) kedua tersangka yakni Wahyudi (40) dan Tino Adriano menilai polisi arogan dan tidak profesional. Pasalnya penangkapan kedua terdakwa oleh Polsek Sekupang tidak berdasarkan hukum.
"Penangkapan tidak sesuai prosedur karena tidak membawa surat penangkapan. Dan penangkapan ini terlalu dipaksakan sehingga tidak sah," ujar Rusli, PH kedua terdakwa dalam sidang  praperadilan tersangka pencurian besi di PT Masa Batam di Pengadilan Negeri (PN) Batam yang didampingi PH lainnya, Roy Wright dan Lubis, Senin (24/9).

Menurut Rusli, kedua kliennya tidak melakukan pencurian. Sebab, katanya, kedua tersangka itu memindahkan barang tanpa ada niat untuk memiliki, akan tetapi hanya atas suruhan PT Masa Batam berdasarkan surat perintah kerja dari perusahaan selaku pemilik barang.

Dengan begitu, katanya, tindakan penahanan ini dianggap tidak berdasarkan hukum. Sehingga harus diperiksa agar tindakan tidak terulang dan tidak merugikan pihak lain.

Untuk itu, lanjut Rusli, meminta kedua tersangka segera dilepaskan dari tahanan. Sedangkan pihak kepolisian agar memberikan ganti rugi secara materiil sebesar Rp2,4 juta karena akibat penahanan sudah delapan hari tidak kerja. Selain itu mengganti kerugian inmateriil sebesar Rp100 juta, akibat dari penahanan tersebut, pemohon jadi malu di masyarakat.

"Kita minta agar hakim yang memimpin persidangan memerintahkan kepolisian untuk mengeluarkan kedua tersangka dari tahanan. Selain itu, mengganti rugi kerugian materiil dan inmateriil," ujar Rusli.

Thomas Tarigan, hakim yang memimpin persidangan menunda sidang hingga besok untuk mendengarkan jawaban dari pihak kepolisian, Selasa (25/9).(doz)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar