Batam

Apindo Kepri Akan Cek Aset PT SCI

Dewan Kawasan Janjikan Mediasi

BATAM CENTRE (HK) -  Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Kepri, Ir Cahya berjanji akan mengecek aset-aset milik PT Sun Creation Indonesia (SCI) yang berada di pabriknya di Kawasan Industri Tunas. Apindo akan mempelajari apakah aset-aset tersebut bisa menjadi penjamin nasib 732 karyawan PT SCI  yang terkatung-katung pascakaburnya para petinggi perusahaan pembuat komponen elektronik tersebut dari Batam.
Selain Cahya, Ketua Apindo Kota Batam, OK Simatupang juga berjanji akan mengumpulkan informasi terkait kebenaran tutup dan hengkangnya manajemen PT SCI ini ke Filipina.

"Informasi ini akan saya tindak lanjuti dulu seperti apa kondisi riilnya. Apakah benar direksinya telah pergi. Kalau iya, kami akan cek juga apakah aset yang ditinggalkan bisa menjamin karyawan, mengingat jumlahnya tidak sedikit, sampai 700 orang," ujar Cahya dihubungi tadi malam melalui telepon selulernya, Jumat (12/7).

Sementara itu, Sekretaris Dewan Kawasan (DK) Batam, Bintan dan Karimun (BBK), Jon Arizal menilai, jika memang benar PT SCI tutup dan menelantarkan ratusan karyawannya, maka manajemen PT SCI sangat tidak bertanggung jawab dalam  menjalankan kewajibannya sebagai perusahaan asing. Namun demikian, kata Jon, DK BBK bisa turun tangan untuk membantu memediasi penyelesaian masalah ini, terutama soal hak-hak karyawan.

"Saya belum dapat kabarnya. Tapi, kalau itu persoalanya (pimpinan perusahaan kabur) kita bisa melakukan mediasi. Bisa melalui badan arbitrase atau BP Batam juga bisa mediasi. Tapi, Jelasnya, kita akan lihat dulu persoalannya dimana," kata Jon, Jumat (12/7).

Kata Jon, perusahaan yang tutup tanpa memberi kabar apalagi meninggalkan ratusan karyawannya, merupakan perusahaan tidak bertanggung jawab. Itu sudah melanggar aturan ketenagakerjaan. Apalagi, status pekerjanya sudah permanen.

Menurut Jon, secara nasional, Penanaman Modal Asing (PMA) yang berinvestasi di Batam merupakan bisnis mereka. Namun badan hukumnya, pasti ada di Indonesia. Karenanya, perlu dilihat siapa di balik orang Indonesia yang harus bertanggung jawab.

"Memang, modalnya dari PMA. Tapi, badan hukumnya pasti melalui notaris Indonesia, ada orang Indonesia di dalamnya.  Makanya, kalau pimpinannya benar kabur, maka orang Indonesia akan kita lihat, siapa yang bertanggung jawab," kata Jon.

Di singgung mengenai apakah ada regulasi, seperti uang jaminan atau deposit bagi perusahaan asing untuk mendirikan pabrik, kata Jon, hal itu tiak bisa dilakukan. Sebab, merupakan aturan yang berlaku secara  nasional.  Itu sudah masalah bisnis. Tapi kaitannya, pasti pada aturan tenaga kerja.

Sebelumnya diberitakan,  nasib sekitar 732 buruh PT Sun SCI yang berlokasi di Kawasan Industri Tunas, Batam Centre, Kota Batam, terkatung-katung. Sejak dua pekan terakhir, perusahaan pembuatan komponen elektronik tersebut menghentikan operasionalnya. Parahnya lagi, manajemen sudah kabur ke perusahaan satu grupnya di Filipina.

Wakil Ketua III Serikat Pekerja PUK PT SCI, Sugeng mengatakan, proses produksi PT SCI berhenti sejak 27 Juni 2013, karena pasokan material sudah dihentikan dan orderan (PO) permintaan barang dari customer sudah tidak ada. Kuat dugaan, masalah ini terjadi atas permintaan manajemen. Dimana, sebelum terhenti beroperasi, tiga hari sebelumnya, manajeman sudah meninggalkan Kota Batam.

"Sampai saat ini kami karyawan berjumlah 732 orang (523 sudah permanen dan 209 karyawan kontrak) merasa bingung. Kami ingin menanyakan kemana staf Jepang itu pergi tanpa konfirmasi dan manajemen di sini tidak mengetahui kepastian apakah PT SCI masih beroperasi atau tidak," kata Sugeng, usai mengadukan nasibnya ke Komisi IV DPRD Batam, bersama puluhan rekannya, Kamis (11/7).

Ia menjelaskan, PT SCI merupakan anak perusahaan dari group Taiyokoki Co.Ltd asal Jepang, bergerak di bidang "Coil Winding". Untuk di Indonesia (Batam), dipimpin oleh Kazaya Nakauchi selaku Presiden Direktur dan Rudi Hartanto selaku General Manager. Perusahaan ini sudah beroperasi sejak 13 tahun lalu atau pada tahun 2000.

Namun, lanjut Sugeng, PT SCI mulai Februari 2013 melakukan pengiriman equipment, seperti mesin, jig dan dokumen yang dimiliki ke PT ELSOL di Filipina, yang merupakan perusahaan satu group. Pada saat itu, kata Sugeng, sudah ada indikasi PT SCI akan dialihkan ke PT ELSOL. Dan puncaknya pada pengiriman mesin pioneer pada 20 Juni lalu, dimana pada saat itu, orderan lagi banyak. Tapi pengiriman mesin tetap dilakukan. Pengirimannya pun mendadak tanpa ada pemberitahuan.

"Setelah pengiriman mesin Pioneer itu, staf Jepang pergi dari Indonesia tanpa ada konfirmasi. Semua e-mail diblokir oleh perusahaan induk, Taiyokoki Group, kecuali tiga pengguna e-mail. E-mail General Manager, Accounting dan HRD," katanya.

Menurut Sugeng, karyawan hanya butuh kejelasan, bukan ditelantarkan seperti saat ini. Apalagi saat ini menjelang Lebaran Idul Fitri, dimana hak-haknya seperti tunjangan hari raya (THR) masih kabur. Sementara pihak manajemen perusahaan tidak bisa dihubungi sampai sekarang. (mnb/pti)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar