Tajuk

Penipuan dan Kriminal Pecah Kaca

Belum lepas sepekan, kasus yang menimpa YW, warga kavling Saguba, Batam, kembali terulang. Diketahui, YW telah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh seseorang yang mengaku dari anggota polisi. Modus yang digunakan pelaku adalah dengan menelpon korban dengan mengatakan jika anak lelakinya telah ditangkap polisi karena kedapatan membawa narkoba jenis ganja. Dalam komunikasi via telepon selular itu, pelaku minta "uang damai" agar kasus yang menimpa anaknya tidak dilanjutkan.
Kini kasus serupa juga menimpa EP (33), warga Perumahan Griya Batuaji Asri, Sagulung. EP mengalami kerugian uang sebesar Rp5 juta, setelah mentransfer uang, Rabu (17/12) sekitar 00.10 dini hari. Menurut pengakuan EP di Polsek Sagulung, dia ditipu oleh seseorang dengan mengatakan adik kandungnya ditangkap polisi terkait membawa barang haram narkoba di kampung halaman di Tarutung, Sumatera Utara. Diungkapkannya, polisi gadungan itu menelepon kakaknya supaya mengirim uang tembusan sebesar Rp10 juta. Uang Rp 10 juta itu guna tembusan adiknya agar dilepaskan tanpa harus masuk penjara.

Lalu di tempat lain, aksi penipuan juga menimpa A, warga perumahan Buana Bukit Permata Tembesi. Lelaki ini tertipu sebesar Rp3,7 juta setelah mendapat kupon di dalam kemasan Pop mie. Disampaikannya, dia diminta pihak PT W agar menstransfer uang sebesar Rp7 juta untuk biaya pengiriman kargo di Bandara Juanda Surabaya.

Sementara, dalam waktu yang bersamaan, mobil NI, salah seorang jurnalis di Batam dibobol spesialis pemecah kaca, Selasa (16/12) sekitar pukul 23.00 WIB yang diparkir di depan Rumah Makan Khas Sunda Baloi, Kelurahan Batu Silicin, Kecamatan Lubukbaja. Akibat kejadian itu, NI mengalami kerugian sekitar Rp30 juta.

Melihat maraknya aksi kriminal penipuan dan pecah kaca mobil ini, rasanya sudah diwajibkan bagi kita semua untuk kembali meningkatkan kewaspadaan. Soalnya, para pelaku kejahatan tersebut, tampak tidak pernah mau tahu siapa korban mereka. Ketika ada kesempatan, saat itu pula mereka langsung melakukan aksinya. Korban penipuan misalnya, saat korban mengalami keterkejutan, akan mudah diperdaya oleh pelaku. Inilah yang menjadi salah satu perhatian utama kita saat ini.  

Selain itu, aksi-aksi seperti ini sudah harus mendapat perhatian dari pihak terkait terutama pihak kepolisian. Ini menjadi salah satu PR aparat di tengah aksi-aksi kriminal lainnya. Kita berharap, para pelaku dan komplotannya dapat dibekuk dan jaringan kriminal ini dapat dibongkar.

Disamping itu, guna meminimalkan aksi-aksi serupa, dukungan dari masyarakat sangat diharapkan. Misalnya, pengurus RT/RW di komplek-komplek perumahan, bisa memasang himbauan-himbauan agar warga untuk selalu waspada, melakukan cek dan ricek terhadap berita-berita yang tak jelas siapa yang memberitahu. Tujuannya agar masyarakat selalu diingatkan dan menyempitkan ruang bagi pelaku kriminal lainnya untuk melancarkan aksinya.



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar