Tajuk

Melegalkan dan Menutup Gelper

Perdebatan soal keberadaan gelanggang permainan (gelper) di Batam kembali mencuat. Ini didasari dari dukungan Komisi I DPRD Batam saat menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan para pengusaha gelper yang tergabung dalam  dalam Assosiasi Pengusaha Gelanggang Permainan (APGEMA) Batam di ruang Komisi I DPRD Batam, Rabu (7/12). Dalam pertemuan tersebut, Komisi I DPRD Batam mendukung dibukanya kembali gelper karena payung hukum keberadaan gelper jelas dengan adanya perda, permen dan juga Perwako. Bahkan usai RDP tersebut, ada rekomendasi kepada Pemerintah Kota Batam agar proses izin gelper tidak dipersulit.
Hasil RDP tersebut langsung mendapat penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI Batam dengan tegas menolak jika gelper dilegalkan oleh Pemerintah Kota. Sebab, menurutnya, keberadaan gelper identik dengan judi. Jadi, jika gelper dilegalkan, berarti sama dengan menyuruh masyarakat untuk berjudi. Hal itu jelas haram dalam pandangan agama.

Selama ini, masalah gelper terus menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Dilegalkan tidak dilegalkan, keberadaan permainan telah ada di sejumlah tempat. Bahkan penikmatnya cukup banyak. Mulai dari orang berduit hingga para pelajar. Kita tahu, aktifitas permainan ini tersebar di banyak tempat seperti di kawasan Jodoh dan Nagoya, Batuaji, Sagulung hingga Sekupang. Karena sifatnya ilegal, telah sering dilakukan razia dan penggerebekan terhadap gelanggang permainan itu. Tapi, meskipun telah sering dilakukan tindakan oleh aparat, keberadaannya tetap ada, bahkan dicari-cari oleh para pemainnya.

Jika kita sepakat, yang namanya permainan apalagi yang berbau judi, jelas tidak benarkan oleh agama dan sosial masyarakat. Dan kita pun tahu, tidak ada yang namanya permainan judi yang membawa kemenangan dan kebaikan. Kita sudah punya banyak pengalaman dengan permainan-permainan seperti itu.

Namun, kita juga tahu, permainan judi termasuk salah satu penyakit masyarakat yang tidak bisa dibasmi. Sekeras apapun usaha untuk membasminya, ada saja celah bagi orang untuk melakukannya. Ada saja upaya yang dilakukan orang untuk memainkan permainan tersebut. Bisa kita lihat sebelumnya, ketika gelper dilarang, ada saja yang melakukan praktik ilegal.

Sekarang kita kembalikan pada diri kita, pemerintah, dan orang-orang yang mempunyai power dalam mengeluarkan kebijakan. Jika kita ingin membangun masyarakat yang baik dengan mengajak mereka mengeluarkan seluruh potensi positifnya, mari bersama-sama kita kobarkan semangat itu. Bukan dengan jalan mengajak mereka untuk bermain dan berkhayal.



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar