Karimun

Blasting Granit PT MGU, Rusak Kebun Buah Naga

- Pecahan Batu granit Berserakan

KARIMUN— Lebih dari 3 hektar lahan kebun pohon naga milik keluarga Lie Chen dihujani batu granit ketika PT Trimegah Perkasa Utama atau yang lebih dikenal dengan PT MGU, perusahaan penambangan batu granit di Karimun melakukan peledakan (blasting). Akibatnya, banyak batu dengan ukuran sebesar kepala orang dewasa berserakan di ladang pohon naga yang telah berumur lima tahun tersebut.

Hujan batu di ladang pohon naga milik Lie Chen yang berlokasi di Desa Pangke, Kecamatan Meral itu sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun,  Sabtu (8/1) lalu, batu yang berhamburan ke ladang blasting tersebut keluar dalam jumlah yang sangat besar. B0anyak pohon naga yang tumbang.

Bukan hanya itu, pada saat blasting tersebut, diduga juga mengeluarkan debu yang berbahaya bagi pertumbuhan pohon naga. Dampaknya, sudah lebih dari 4 bulan belakangan, pohon naga milik keluarga Lie Chen tidak pernah lagi berbuah.

Tidak terima atas kerugian yang dialaminya, Lie Chen akhirnya melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Meral, Minggu (9/1). Kepada polisi, Lie melaporkan atas kerugian yang dialami karena banyaknya pecahan batu granit yang berserakan ke ladangnya, yang berakibat rusaknya  pohon naga milik keluarganya itu.

Usai memberikan laporan kepada polisi, kepada Haluan Kepri, Lie Chen mengatakan, sebenarnya ia memiliki kebun naga seluas 6 hektar, namun yang terkena batu lebih dari 3 hektar atau sekitar 6.500 batang pohon naga.

“Sebelum peristiwa itu, sekali panen saya bisa memetik hasil 4 ton buah naga per bulan dengan harga Rp30 ribu per kilogram. Karena peristiwa itu, saya mengalami kerugian sekitar Rp400 juta-an. Untuk itu, saya meminta ganti rugi kepada PT MGU atas peristiwa itu,” ungkap Lie Chen di Mapolsek Meral.

Lie mengakui kalau dirinya sering melaporkan peristiwa itu ke sekuriti PT MGU, bahkan dirinya juga sudah mengirim surat resmi keperusahaan itu untuk meminta kompensasi, dan pertemuan itu dilaksanakan di kantor Desa Pangke, namun setelah itu tak pernah ada realisasinya.

Hal itu juga dibenarkan Christoper (32), petugas kebun keluarga Lie. Bahkan, Chris yang sehari-hari menjaga kebun itu melihat sendiri batu-batu yang berterbangan menimpa ladang pohon naga yang dijaganya.

“Biasanya, PT MGU blasting setiap Senin dan Rabu, namun  kok tiba-tiba Sabtu kemarin mereka melakukan blasting, dan saat itu pula banyak batu yang berhamburan menimpa kebun, kalau dikumpulkan bisa satu lori,” kata Chris.

Sementara itu, Kepala Teknik Tambang PT MGU, Refli Wardi ketika dikonfirmasi mengakui sudah tahu persoalan itu. Menurutnya, persitiwa berhamburannya pecahan batu granit ke lokasi sekitar merupakan persoalan yang bersifat normatif.

“Biasalah itu, itu sama juga dengan orang berumah di tepi pantai, ya pasti kena air laut,” ujar Refli beranalogi.

Dikatakan Refli, sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah, sebenarnya daerah tersebut bukan masuk kawasan perkebunan, melainkan kawasan tambang. Apalagi, sejak berdirinya PT MGU di kawasan itu sejak 1990 silam. “Dan perusahaan tidak akan memberikan kompensasi langsung karena dampak itu,” ungkap Refli.

Disisi lain, Lie Chen mengklaim orang tuanya telah berkebun di tanah milik keluarganya itu sejak dirinya masih kecil. Waktu itu, orang tuanya berkebun durian dan pisang. Hanya lima tahun belakangan saja berkebun naga.

“Sudah lebih dari 20 tahun lalu keluarga kami sudah berkebun, jauh sebelum PT MGU didirikan. Jadi tak pantas kalau kebun kami disebut masuk kawasan tambang,” tandasnya. (hk/30)



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar