Tajuk

Mari Ciptakan Kebersihan

Menggelitik membaca sebuah tulisan yang dibuat masyarakat terkait masalah sampah yang bertebaran di mana-mana. Seperti yang dilansir Haluan Kepri edisi, Rabu (4/1), di satu kawasan di Batam Centre, warga di sekitar kawasan itu menulis yang tulisannya berbunyi," "Ya Tuhan...Cabutlah Nyawa Orang Yang Membuang Sampah Disini.. Tertanda Warga RT 004/RW 029".
Sebuah ungkapan yang sangat "spontan" tanpa ada editing bahasa yang bisa diperhalus. Bisa pula tulisan tersebut sebuah ungkapan kekesalan, kemarahan, atau bisa juga ungkapan ketidakberdayaan masyarakat setempat atas prilaku segelintirorang yang suka membuang sampah sembarangan.

Memang, jika ditelaah, masalah sampah yang ada di Batam akhir-akhir ini membuat banyak masyarakat meradang. Persoalannya, limbah yang rata-rata berasal dari rumah tangga itu sering tidak diangkut oleh petugas. Kalaupun diangkut, durasi waktunya terbilang lama, bisa mencapai sekali dua pekan. Bahkan lebih. Kondisi itu tentu membuat masyarakat merasa tidak nyaman. Namun, sejak beberapa waktu terakhir, Pemerintah Kota Batam bersama unsur pemerintahan di tingkat kecamatan dan kelurahan telah mengambil sikap dengan menurunkan petugas untuk mengangkut sampah rumah tangga. Dan sejak beberapa waktu terakhir ini pula, limbah rumah tangga yang biasanya dikutip sekali seminggu atau dua minggu, kini dalam waktu tiga hari sekali telah diangkut.

Tapi, ada persoalan lain yang timbul. Saat Pemerintah Kota Batam dan jajarannya telah menunjukan niat baik untuk memberikan rasa nyaman pada masyarakat, ada saja ulah buruk yang dipertontonkan oleh segelintir masyarakat dengan membuang sampah sembarangan. Modusnya sederhana, yakni, memasukan sampah dalam kantong plastik, lalu mengendarai sepeda motor atau roda empat, lalu sambil berjalan membuang sampah tersebut di pinggir jalan yang nota bene bukan Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Jika sebelumnya aksi tersebut masih bisa "dimaklumi". Tapi, lama kelamaan aksi tersebut jelas membuat masyarakat lain menjadi gerah. Karena itulah hadir tulisan seperti di atas.

Menyimak kondisi di lapangan seperti itu, masyarakat yang biasa membuang sampah sembarangan itu hendaknya sadar akan perbuatannya. Soalnya, karena ulahnya, masyarakat yang lain jadi terganggu. Apakah perbuatannya itu bisa dimaklumi? Jawabannya pasti 'tidak'. Sebab, di tengah masyarakat bersama-sama menciptakan rasa nyaman bagi masyarakat lainnya, jangan pula dikotori oleh ulah yang negatif seperti itu.

Hidup di kota seperti Batam, tidak bisa mengedepakan ego masing-masing. Hidup di kota ini ada aturan dan norma-norma yang harus dipatuhi. Bagaimana kita bisa mengatakan diri kita bersih, kalau kita sendiri tidak bisa menciptakan kebersihan itu. Karena itu, marilah sama-sama menjaga lingkungan. Kalau lingkungan bersih, siapa yang nyaman? Tentu kita juga.



[Ikuti HaluanKepri.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar